Garuda Indonesia Salah Beli 17 Pesawat Bombardier CRJ1000, Mantan Komisaris: Siapa yang Suruh
Pesawat Garuda Indonesia. (Foto: Wikimedia Commons)

Bagikan:

MEDAN - Kabar kesalahan beli pesawat Bombardier CRJ1000 oleh Garuda Indonesia berhembus. Hingga mantan Komisaris PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Peter F. Gontha menilai bahwa manajemen maskapai Garuda Indonesia telah salah.

Gontha menilai manajemen salah membeli pesawat Bombardier CRJ1000. Menurut dia, ada pihak yang sengaja menyuruh agar pesawat tersebut dibeli, sehingga perlu dilakukan investigasi.

"Pertanyaannya kenapa pesawat bombardier Ini akhirnya dibeli? Siapa yang memaksa Garuda untuk membeli pesawat ini? Ada orang yang menyuruh. Nah ini harus diinvestigasi siapa orangnya," ucapnya dalam diskusi di Gedung DPR, Senayan, dikutip Kamis, 2 Desember.

Peter F. Gontha: Ada orang yang menyuruh

Namun, Peter mengaku tidak ingin menuduh siapapun. Karena itu, investigasi pun harus dilakukan. Sebab, hal ini juga ikut membuat permasalahan di Garuda Indonesia semakin pelik.

"Saya tidak bisa datang ke sini untuk menuduh. Patut diduga bahwa terjadi sesuatu karena ini sangat pelik jadi ini adalah salah satu hal lagi," tuturnya.

Peter menjelaskan bahwa niat membeli pesawat tersebut baik untuk menghubungkan kota-kota besar di Indonesia. Namun, yang menjadi permasalahan adalah jenis pesawat Bombardier CRJ1000 tidak bisa dipakai di Indonesia. Karena menurutnya, tidak cocok dengan bentuk bandara yang ada di Indonesia.

"Tapi yang menjadi masalah pesawat ini sudah bisa terbang tetapi bandaranya runway-nya terlalu pendek semua. Jadi salah beli lagi," jelasnya.

Lebih lanjut, kata Peter, Garuda harusnya membeli pesawat buatan Brasil ketimbang pesawat Bombardier CRJ1000. Sebab, pesawat tersebut bisa dipakai di Indonesia.

"Harusnya yang dibeli pesawat Embraer dari Brasil," katanya.

Sebelumnya, Peter F. Gontha memang sudah menyoroti pembelian pesawat Bombardier CRJ1000 tersebut melalui media sosialnya. Peter menilai bahwa manajemen maskapai tersebut telah salah membeli pesawat CRJ1000. Ia pun mempertanyakan siapa yang mengusulkan untuk membeli pesawat tersebut.

"Ini pesawat CRJ Garuda yang salah beli, ada 17 buah. Siapa sih yang suruh beli? Siapa sih brokernya?," tulisnya di akun Instagram pribadinya @petergontha, dikutip Kamis, 28 Oktober.

Menurut Peter, pesawat tersebut pun kini tak dapat digunakan. Alhasil, Garuda harus menanggung kerugian dari keputusan untuk membeli pesawat terbang tersebut.

"Sekarang nganggur dan dibalikin. Ruginya jutaan?," sambungnya.

Sekadar informasi, Kementerian BUMN di bawah pimpinan Erick Thohir memutuskan mengembalikan 12 pesawat Bombardier CRJ1000 dan mengakhiri kontrak dengan Nordic Aviation Capital atau NAC yang jatuh tempo pada 2027 mendatang.

Selain itu, Garuda Indonesia juga mengajukan proposal penghentian dini kontrak sewa enam pesawat Bombardier CRJ1000 lainnya kepada Export Development Canada (EDC). Di mana, Garuda tengah melakukan negosiasi early payment settlement contract financial lease enam pesawat tersebut.

Proses negosiasi dengan NAC sendiri sudah dilakukan berulang kali. Meski begitu, pihak NAC belum memberikan respons persetujuan. Pemegang saham menilai hal itu tidak menjadi kendala. Dalam kajiannya, pemegang saham tetap memutuskan untuk mengembalikan 12 pesawat CRJ1000.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan dalam setahun, Garuda rugi hingga 30 juta dolar AS atau sekitar Rp419,8 miliar (kurs Rp13.996) karena menyewa Bombardier CRJ1000. Padahal, Erick menyebut harga sewa 12 pesawat Bombardier CRJ1000 per tahun hanya 27 juta dolar AS atau sekitar Rp377,8 miliar.

 

Artikel ini pernah tayang di VOI.ID dengan judul: Garuda Indonesia Salah Beli Pesawat Bombardier CRJ1000, Peter Gontha: Harus Diinvestigasi Siapa yang Suruh

Selain Garuda Indonesia, ikuti berita dalam dan luar negeri lainnya hanya di VOI Sumut, Waktunya Merevolusi Pemberitaan!