Sisi Kelam Pemerintahan Orde Baru: Indikasi 'Petrus' jadi Alat Politik
Presiden kedua RI Soeharto (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

MEDAN - Operasi Petrus tak melulu dijadikan Orba sebagai alat memberantas kriminalitas di pelosok negeri. Dalam pada itu, Petrus konon dijadikan alat politik untuk membungkam dan mengecam lawan politik dari The Smiling General.

Narasi itu karena Orba dengan Petrusnya sengaja menampilkan diri sebagai sebuah kekuatan besar yang siap melenyapkan segala bentuk ancaman yang mengarah pada upaya pelemahan peran pemerintah di masyarakat.

Konon penjahat yang dibantai adalah para pelaku kriminal yang dibina opsus

“Yang tidak banyak diketahui waktu itu, penembakan misterius tersebut ditengarai juga sebagai mempunyai dimensi politik. Konon banyak penjahat yang dibantai itu tadinya adalah para pelaku kriminal yang dibina opsus (operasi khusus) pimpinan Ali Murtopo. Kelompok kriminal yang di Jawa Tengah dikenal sebagai 'gali' (gabungan anak liar) tersebut terutama dipakai pada kampanye pemilihan umum untuk meneror saingan-saingan politik pemerintah, terutama kekuatan Islam politik,” jelas Salim Said dalam buku Menyaksikan 30 tahun pemerintahan otoriter Soeharto (2016).

Operasi petrus juga menunjukkan fakta kelompok kriminal maupun preman perkotaan ditempatkan seperti preman atau jago pada masa penjajahan. Yang mana, para kriminal itu memiliki posisi strategis, namun rawan.

Peneliti asal Australia, Ian D. Wilson menyebutkan posisi kerawanan para preman dan gangster pada akhirnya tetap bergantung kepada ‘beking’ jejaris politik yang berafiliasi bukan hanya sekedar dengan negara, tetapi Soeharto.

Nasib buruk justru didapat kelompok kriminal yang bekerja secara sendiri-sendiri atau dalam geng kecil tanpa suatu pola yang disepakati oleh penguasa, mereka dalam posisi rentan. Posisi itulah yang oleh Ian D. Wilson sebutkan telah dirasakan oleh para anggota ‘kebun Binatang’ Ali Murtopo.

Sebab, kunci utama agar terbebas dari operasi “bersih-bersih” ala orde baru adalah kesetiaan kepada negara, militer, dan tentu saja Soeharto. Ormas Pemuda Pancasila (PP) muncul jadi contoh terbaik. PP kala itu siap sedia membantu selama negara butuhkan.

“Preman lokal dalam hal ini merupakan mikrokosmos negara, yang bisa turut menjelaskan mengapa kemunculan para pengusaha kekerasan otonom pada penghujung 1970-an ini merupakan sesuatu vang tidak bisa diperbolehkan oleh Soeharto. Kunci bertahan hidup bagi preman adalah berorganisasi dan pernyataan kesetiaan penuh kepada Golkar, militer, dan presiden. Organisasi-organisasi lebih besar dengan jangkauan nasional seperti Pemuda Pancasila selamat dari masa-masa Petrus nyaris tak tersentuh,” tutup Ian D. Wilson dalam buku Politik Jatah Preman: Ormas dan Kuasa Jalanan di Indonesia Pasca Orde Baru (2018).

Artikel ini pernah tayang di VOI.ID dengan judul: Soeharto 'Bersih-Bersih' Preman lewat Operasi Petrus

Selain Sisi Kelam Pemerintahan Orde Baru, ikuti berita dalam dan luar negeri lainnya hanya di VOI, Waktunya Merevolusi Pemberitaan!