Asal Muasal Sebutan 'Bule' untuk Warga Negara Asing
Wisatawan asing di The Lawn, Canggu, Bali (Cassie Gallegos/Unsplash)

Bagikan:

MEDAN – Sebutan orang asing sebagai “bule” telah mengakar di Indonesia. Mereka yang berciri fisik jasmaniah berkulit putih, berhidung mancung, dan berambut pirang maupun putih lekat diidentifikasi sebagai bule.

Uniknya, di lapangan, sapaan ini justru menuai prokontra dari mereka yang tergolong ras kaukasoid.

Ada yang merasa terganggu dengan panggilan bule, serta ada yang nyaman-nyaman saja dipanggil bule.

Sebutan ‘Bule’ Sempat Menuai Prokontra

Saking nyamannya, sampai-sampai ada anggapan istilah tersebut sebagai sebuah keunikan yang hanya didapat kala berkunjung ke Negeri Zamrud Khatulistiwa.

Kami menghubungi seorang warga Prancis, David Joaquin, yang sering bolak-balik berlibur ke Bali.

Ia mengaku keberatan dengan sebutan bule. Ia merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dan ia tahu, dalam kamus, bule mengandung arti sebagai: orang yang putih seluruh tubuh dan rambutnya karena kekurangan pigmen; balar.

Selain itu, ia juga paham, penyebutan bule lekat dengan hewan kerbau albino. “Sekali dua kali memang lucu.

Tapi, lama-kelamaan, saya merasa tak nyaman. Setahu saya, istilah bule itu berarti kerbau bule albino yang sakit dan saya jelas tak setuju jikalau ada yang menyebut saya bule,” ungkapnya saat dihubungi VOI, 14 Juni.

Berbeda dengan David. Keri, wisatawan asal Swiss yang sering main-main ke Gili Trawangan, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) justru malah menganggap penyebutan kata bule kepada orang Eropa atau orang yang datang dari luar Indonesia sebagai bagian dari keunikan khas Indonesa.

“Sejauh ini, panggilan bule bagi saya tidak masalah. Saya pun tidak merasa risih akan hal itu, terutama saat saya disapa oleh orang Indonesia ketika di jalan, tempat wisata, maupun hotel.

Toh, orang Indonesia terkenal baik dan ramah. Jadi, selama mereka sopan dan menghargai saya, maka dengan senang hati saya menerima panggilan tersebut,” ucap wanita 32 tahun tersebut.

“Untuk itu, saya nyaman-nyaman saja. Malah, kadang-kadang lucu disebut bule. Sebab, di Eropa kita tidak dipanggil bule. Tetapi, pas main ke Indonesia kita baru merasakan disebut bule,” tambahnya.

Dalam perjalanannya, istilah bule tak hanya mengidentifikasikan mereka yang berkulit putih dan terlahir di Eropa maupun Amerika saja. Mereka yang berasal dari Afrika, Arab, India, maupun Thailand dapat digolongkan sebagai bule.

Namun, istilah ini tak akan berlaku bagi mereka yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Brunei. Alasannya, tentu saja karena mereka masih tergolong orang Melayu yang notabene mirip dengan orang Indonesia umumnya.

Jauh sebelum kata bule populer, orang Indonesia umumnya mengeneralisir penyebutan orang asing sebagai kompeni ataupun londo.

Kata 'kompeni' sendiri berasal dari kesalahan orang Indonesia dalam melafalkan nama kongsi dagang Belanda Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Oleh karenanya, yang paling banyak diingat hanya baris terakhir, yakni 'compagnie', yang lama-kelamaan lidah Nusantara mulai menyerap kata tersebut menjadi 'kompeni'. Londo pun begitu, asal kulit putih mereka disebut londo.

Untuk itu, dapat dipastikan kata bule tak eksis sepanjang masa penjajahan Belanda, mengingat banyak di antara kaum bumiputra banyak memanggil orang asing atau Eropa dengan sebutan Tuan. Panggilan itu, sebagaimana kolonialis-kolonialis Belanda umumnya minta dipanggil.

 

Artikel ini pernah tayang lengkap di VOI.ID dengan judul: Asal-usul Sebutan 'Bule' untuk Warga Asing.

Selain asal muasal sebutan 'Bule', ikuti berita dalam dan luar negeri lainnya hanya di VOI, Waktunya Merevolusi Pemberitaan!