Insiden Bom Pipa Seberat 18 Kilogram yang Meledak di Tengah Olimpiade Tahun 1996
Efek ledakan pada patung di Centennial Olympic Park (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

MEDAN - Pada 27 Juli 1996, sebuah panggilan 911 anonim memperingatkan sebuah bom akan meledak di Centennial Olympic Park di Atlanta, Amerika Serikat (AS). Di tempat itu Olimpiade 1996 sedang berlangsung.

Penelepon berkata, "Ada bom di Centennial Park. Anda punya waktu 30 menit." Panggilan itu kemudian dipastikan dilakukan dari telepon umum di dekat area tersebut.

Bom Pipa Melukai 100 Orang

Sekitar 22 menit kemudian, sebuah bom pipa seberat 40 pon atau sekitar 18 kilogram meledak. Pengeboman menewaskan seorang ibu yang membawa putrinya dan melukai lebih dari seratus orang lain, termasuk juru kamera Turki yang terkena serangan jantung karena ledakan.

Dalam beberapa hari seorang penjaga keamanan bernama Richard Jewell diselidiki atas kejahatan tersebut. Mengutip Law Library-American Law and Legal Information, sebelum bom meledak Richard Jewell membantu memimpin evakuasi yang membatasi korban kematian.

Kepahlawanan Jewell dipuji secara luas. Namun dalam tiga hari, FBI mencurigai Jewell sebagai tersangka.

FBI mencurigai Jewell setelah melakukan sebelas wawancara. FBI berteori Jewell menanam bom untuk dilihat sebagai pahlawan.

Teori itu bocor ke pers. Atlanta Journal-Constitution menerbitkan edisi tambahan pada 30 Juli berjudul Tersangka 'Pahlawan' Mungkin Menanam Bom.

Tuduhan terhadap Jewell bertambah dengan adanya laporan bahwa Jewell mencari publisitas untuk kepahlawanannya. Pada program berita malam NBC, pembawa acara Tom Brokaw menyatakan FBI 'mungkin' memiliki cukup bukti untuk menangkap dan mengadili Jewell.

Penyelidikan berlangsung selama tiga bulan. Selama penyelidikan tersebut, Jewell jadi sasaran dua tuntutan hukum oleh para penyintas pengeboman, yang kemudian diberhentikan.

Jewell mempertahankan ketidakbersalahannya. Jewell mencoba membersihkan nama dengan menunjukkan ia tidak mendekati media untuk mencari perhatian.

Status hukum dianulir

Pada 26 Oktober 1996, FBI menetapkan Jewell bukanlah tersangka pengeboman. Jewell muncul di konferensi pers, di mana dia menyatakan telah menghabiskan 88 hari hidup dalam ketakutan.

Jaksa AS di Atlanta, Kent Alexander mengirim surat kepada Jewell yang mengatakan "berdasarkan bukti yang dikembangkan hingga saat ini ... Richard Jewell tidak dianggap sebagai target investigasi kriminal federal atas pengeboman pada 27 Juli, 1996, di Centennial Olympic Park di Atlanta."

Surat itu tidak menyatakan permintaan maaf. Tetapi dalam pernyataan terpisah yang dikeluarkan oleh Alexander, Departemen Kehakiman AS menyesalkan bocornya penyelidikan tersebut.

Pernyataan yang dikeluarkan secara terpisah mengatakan Jewell "mengalami publisitas yang sangat tidak biasa dan intens, yang tidak dirancang atau diinginkan oleh FBI, dan pada kenyataannya mengganggu penyelidikan."

Surat tersebut juga mengatakan, "Publik harus mengingat bahwa Richard Jewell tidak pernah didakwa dengan kejahatan apa pun sehubungan dengan pengeboman itu dan properti yang disita berdasarkan surat perintah penggeledahan yang disahkan oleh pengadilan telah dikembalikan."

The New York Times melaporkan bahwa pernyataan itu "sangat tidak biasa" karena "itu adalah pengakuan tidak langsung pejabat Federal bahwa mereka salah dalam kecurigaan terhadap Jewell."

Permintaan maaf atas salahnya FBI dalam menentukan tersangka tidak pernah benar-benar disampaikan. Bahkan pada konferensi pers yang digelar Juli 1997, ketika Jaksa Agung AS Janet Reno menyatakan penyesalan pribadinya.

Lagi-lagi Reno hanya menyesal atas kebocoran yang menyebabkan publisitas tinggi terhadap Jewell. Dia berkata, "Saya sangat menyesal itu terjadi. Saya pikir kita berutang permintaan maaf padanya. Saya menyesali kebocoran itu."

Artikel ini pernah tayang di VOI.ID dengan judul: Bom Pipa Seberat 18 Kilogram Meledak di Tengah Olimpiade dengan Diawali Telepon Misterius dalam Sejarah Hari Ini, 27 Juli 1996

Selain Insiden Bom Pipa di Tengah Olimpiade, ikuti berita dalam dan luar negeri lainnya hanya di VOI, Waktunya Merevolusi Pemberitaan!