Sejarah Mencatat jika Sukarno adalah Kutu Buku, Berikut Faktanya
Soekarno (Sumber: Commons Wikimedia)

Bagikan:

MEDAN - Kesukaan Bung Karno pada buku bukan rahasia. Sejak kecil, Bung Karno telah terbiasa membaca buku. Bapak Bung Karno, Raden Soekemi Sosrodihardjo yang aktif sebagai anggota perkumpulan Theosofi jadi muaranya.

Berkat hak istimewa itu, Soekarno tak saja membaca buku koleksi orang tuanya, tapi ia dapat mengakses sebuah perpustaan besar miliki kaum Theosofi dengan bebas. Buku-buku diperpustakaan theosofi itu laksana peti harta karun baginya.

Kecintaan Soekarno pada buku hingga Hoogere Burgerschool di Surabaya

Kecintaannya kepada buku-buku berlanjut hingga Soekarno masuk Hoogere Burgerschool (HBS) di Surabaya. Kala anak-anak lain bermain, Soekarno banyak menghabiskan waktunya belajar dengan membaca buku-buku. Lewat buku-buku, Soekarno mengejar pengetahuan luar sekolah. Pun sepulang ke rumah Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, Soekarno dapat mengakses dengan bebas seluruh koleksi buku tokoh Sarekat Islam.

“Oemar Said Tjokroaminoto berumur 33 tahun ketika aku datang ke Surabaya. Pak Tjokro mengajarku tentang apa dan siapa dia, bukan tentang apa yang ia ketahui ataupun tentang apa jadiku kelak. Seorang tokoh yang mempunyai daya cipta dan cita‐cita tinggi, seorang pejuang yang mencintai tanah tumpah darahnya. Pak Tjokro adalah pujaanku. Aku muridnya. Secara sadar atau tidak sadar ia menggemblengku. Aku duduk dekat kakinya dan diberikannya kepadaku buku‐bukunya, diberikannya padaku miliknya yang berharga,” cerita Soekarno disampaikan kepada Cindy Adams.

Buku juga menjadi satu-satunya harta kekayaan Soekarno ketika menjalani hari-hari di pengasingannya di Ende (1934-1939), kemudian Bengkulu (1938-1942). Tercatat, koleksi buku Bung Karno mencapai seribu lebih. Bung Karno tak meninggalkan satupun buku di pengasingan. Selepas diasingkan, seluruh buku ia bawa kembali ke Jakarta.

"Dalam koleksi bukunya itu terdapat buku-buku yang membicarakan fasisme serta cara-cara mengalahkannya. Misalnya, tulisan Willy Munzenberg yang berjudul 'Propaganda als Waffe', atau karangan Ernst HenDry yang berjudul 'Hitler Over Rusia'. Koleksi buku Soekarno yang sedemikian banyak disertai perenungan yang dalam mengantarkannya untuk merumuskan dasar negara," ungkap Peter Kasenda dalam buku Bung Karno Panglima Revolusi (2014).

Artikel ini pernah tayang di VOI.ID dengan judul: Menelusuri Kutipan Soekarno 'Lebih Suka Pemuda Ngopi daripada Kutu Buku' yang Tak Jelas Dari Mana

Selain fakta Sukarno adalah Kutu Buku, ikuti berita dalam dan luar negeri lainnya hanya di VOI, Waktunya Merevolusi Pemberitaan!